Minggu, 09 Oktober 2016

Lika-Liku Suporter Persija: Dari VIJers, PFC, hingga The Jakmania . ( Bagian 4 )

Tiket Gratis di Awal Era Bang Yos?

“(Memang) banyak kerahan dari kelurahan, itu dari Bang Yos sendiri. Tapi Jakmania beda dengan (kerahan) Bang Yos,” aku Bung Ferry. “Kita kadang malah agak terganggu sama mereka. Kita (Jakmania) kan nyanyi, pake drum, mereka bawa tanjidor (kesenian musik khas Betawi), bawa alat musik. Makanya akhirnya kita minta sama Persija supaya suporter yang itu dipisahin.”
Selain faktor emosional geografis yang dikelitik oleh The Jakmania, perkembangan organisasi ini yang begitu pesat pada pergantian milenium ketiga lalu juga terjadi berkat revolusi yang terjadi pada tubuh Persija sendiri. Berkebalikan dengan kondisi pada pertengahan 1990an, mulai 1997 hingga 2003, Persija merupakan tim yang sangat makmur dengan banyaknya sponsor yang masuk. Ini tentu saja tak lepas dari partisipasi aktif pemerintah daerah yang membantu mendorong sponsor untuk mendukung Persija pada era ini.
Tak mengherankan jika mulai 1999, Persija mulai mampu mengumpulkan pemain-pemain terbaik di timnya, dipandu oleh Ivan Kolev yang membangun pondasi Persija. Pelatih yang kelak melatih timnas Indonesia ini memang tak sempat merasakan juara bersama ‘Si Oren’, julukan baru Persija setelah berganti warna menjadi oranye, tapi ialah yang membangun Persija sebelum diteruskan oleh Sofyan Hadi untuk membawa Persija menjuarai Liga Indonesia VII pada tahun 2001.
Imbasnya, peningkatan jumlah anggota Jakmania pun melesat pesat. “Puncaknya di Liga Indonesia VII. Sampai 12.000 anggota baru yang mendaftar dalam waktu setengah musim,” kata Bung Ferry.



Dalam waktu singkat, Persija menjadi salah satu kelompok suporter terbesar di Indonesia dan salah satu yang paling berpengaruh juga. Pengaruhnya pun terasa bagi klub sendiri, yang sering diprotes oleh para suporter jika ada hal-hal yang dirasa tak tepat.
Tetapi besarnya jumlah anggota tak melulu berujung pada hal yang baik. Dengan banyaknya kasus kekerasan yang melibatkan The Jakmania dan kelompok suporter lain selama beberapa tahun belakangan, nama The Jak pun menjadi buruk. Pelan-pelan muncul anggapan bahwa The Jak hanya bisa membuat ricuh, padahal klubnya sendiri tengah terpuruk secara prestasi. Tapi benarkah seperti itu?
“Masyarakat kita sudah terlalu parno dengan massa dalam jumlah besar. Mau itu massa sepakbola, musik, atau partai, kita sudah parno. Tapi kalau boleh dibandingin, The Jak sudah menonton di Lebak Bulus selama belasan tahun, apakah stadion Lebak Bulus pernah dibakar? Tidak pernah sekalipun.” kata Bung Ferry.
“Stadion Lebak Bulus pernah punya sejarah bakar-bakaran, tapi terjadi di konser Metallica. Jadi jangan dibilang (Jakmania) rusuh. Yang lebih rusuh yang mana?”
“Cuma mungkin karena sepakbola frekuensinya lebih banyak, orang lebih menyorotinya. Lebak bulus pernah dua kali, lho, kerusuhan yang parah, waktu (konser) Iwan Fals, sama waktu Metallica.”

>> Bersambung.... Ke bagian ke 5 ......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar