Jumat, 07 Oktober 2016

Lika-Liku Suporter Persija: Dari VIJers, PFC, hingga The Jakmania . ( Bagian 2 )

Kedekatan Emosional Jadi Sumber Dukungan
Pada era VIJ, klub ini bisa cukup mudah meraup dukungan dengan “menjual” nasionalisme. Lalu bagaimana setelah Indonesia merdeka dan VIJ berubah menjadi Persija? Apakah masih ada dukungan bagi klub yang terus mengenakan seragam merah mereka meski telah berganti nama?
Jawabannya: masih. Namun, ada pergeseran alasan. Jika dulu warga pribumi mendukung VIJ sebagai bentuk perlawanan mereka atas VBO, NIVU, dan penjajahan Belanda, di era 1950-70an, klub yang saat itu sudah berganti nama menjadi Persija tersebut mendapatkan dukungan besar dari warga pribumi karena kedekatan emosional pada para pemain.
Hal tersebut sangat tampak terutama di tahun 1964, ketika Persija bisa menjadi juara Perserikatan tanpa terkalahkan. Selain memang karena hasil-hasil akhir yang memuaskan di atas lapangan, fakta bahwa skuat Persija di masa itu diisi oleh pemain-pemain lokal binaan Persija menjadi alasan kenapa warga Jakarta ramai-ramai mendukung tim ini.
“Timnya muda, dan (pemain-pemain) kayak Soetjipto Soentoro itu orang Gandaria. Adiknya, Soegito, juga orang Gandaria. Fam Tek Fong, Kwee Tik Lion itu orang-orang Glodok, yang nggak terlalu jauh dari Tanah Abang,” kata Gerry. “Istilahnya, masih orang-orang kita (Jakarta) juga, orang-orang yang kita kenal.”
Pada tahun 1973, ketika Persija juara, bahkan para suporter Persija sampai masuk ke dalam lapangan untuk merayakan gol Andi Lala. Majalah Tempo ketika itu memasang tajuk utama “Hadiah untuk Warga Kota”.


Penurunan prestasi yang dialami oleh Persija di tahun 1980an, terutama ketika mereka hampir terdegradasi di tahun 1985, menjadi salah satu penyebab mengapa terjadi penurunan dukungan juga terhadap Persija.
“Kultur orang Jakarta dulu kan memang kalau timnya bagus, mereka berbondong-bondong, kalau timnya jelek, ntar-ntaran dulu deh.” lanjut Gerry.
Urbanisasi tentu saja jadi penyebab yang besar juga. Makin banyaknya orang-orang daerah yang pindah ke Jakarta pada era 80-90an membuat kota ini dihuni oleh warga yang makin beragam asalnya. Masalahnya, mereka yang datang dari daerah pun lebih memilih klub dari daerah asalnya. Orang Surabaya lebih memilih mendukung Persebaya. Orang Malang tentu saja Arema.
Tanpa dukungan warga Betawi dan minimnya pendatang yang mau mendukung Persija membuat jumlah dukungan untuk klub ini makin minim. Apalagi, prestasi di atas lapangan pun tak membantu.
“Titik nadir Persija itu tahun ‘90an. Hampir degradasi juga, secara finansial juga lebih terpuruk. Paling yang nonton cuma artis kayak Indra Lesmana atau keluarga deket (Persija) saja. Selebihnya anak-anak muda Jakarta, lebih nonton Pelita yang lebih wah waktu itu,” ujar Gerry.

>> Bersambung.... Ke bagian ke 3 .....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar