Militansi Jakmania di Pakansari Buat Skuat PS TNI Iri:
.
.
Kehadiran Jakmania di Stadion Pakansari mengundang pujian dari skuat PS TNI. Edy Syahputra (asisten pelatih) dan Legimin Rahardjo (kapten tim) menuturkan Persija Jakarta beruntung punya basis suporter yang besar dan militan.
PS TNI kembali harus mengubur asa mereka untuk meraih tiga poin. Sempat unggul terlebih dahulu, namun pada akhirnya tim asuhan Suharto AD itu harus menyerah dari Persija dengan skor 1-2.
Asisten Pelatih PS TNI, Edy Syahputra menyebut kekalahan timnya tak lepas dari hilangnya konsentrasi para pemain mereka terutama saat mengantisipasi bola-bola mati. Namun, ia juga tidak memungkiri kehadiran Jakmania di tribun penonton membuat mental Tambun Naibaho dan kawan-kawan cukup drop.
“Kita lengah di menit-menit akhir padahal kita mampu menguasai permainan hingga dua gol Persija terjadi karena kelemahan pemain PS TNI yang bermasalah dalam hal komunikasi,” ucap Edy kepada para wartawan.
“Saya juga harus akui kehadiran Jakmania di Pakansari cukup berpengaruh besar mempengaruhi mental pemain PS TNI seperti kami main kandang tapi rasa tandang. Saya juga tidak melihat ada suporter kami di tribun,” sambungnya.
Pernyataan tak jauh berbeda pun diutarakan oleh kapten PS TNI, Legimin Rahadrjo. Eks pemain PSMS Medan itu menyebut Persija beruntung punya kekuatan tambahan dengan hadirnya militansi Jakmania di Pakansari kemarin.
“Laga berjalan sangat berat sekali terutama setelah kami unggul terlebih dahulu. Persija benar-benar beruntung punya Jakmania yang hadir di Pakansari , PS TNI seperti main di laga tandang saja,” tandas pemain bernomor punggung 24 tersebut.
Senin, 17 Oktober 2016
Minggu, 16 Oktober 2016
Bangga Jakmania
Manusia berakhlak memilih menyapa daripada menantang. Manusia berakal selalu punya cara bukan sekedar terlaksana. Manusia Persija mengedepankan Cinta daripada Curiga.
Cintalah yang membuat kalian berjalan kesana. Cintalah yang membuat kalian menunda menggunakan atribut. Cinta kalian pula yang membuat Persija selalu berjuang hingga menit akhir pertandingan.
Jumlah bukan yang utama. Nyali bukan yang membuat bangga. Tapi kisah menjadi pemain ke 12 Persija yang akan selalu menjadi cerita. Karena Persija dan the Jakmania adalah 2 sisi mata uang yang tak terpisahkan.
Ketika kalian merasa media tak berimbang, ketika kalian menganggap Polisi berpihak, saat itulah sebenarnya Allah ingin mendengar doa kalian, bukan ratapan kalian di media sosial.
#BanggaJakmania
" Bung Ferry JM02 "
Sabtu, 15 Oktober 2016
Di Larang Gunakan Atribut, The Jakmania Bawa Harimau Ke Stadion
Para The Jakmania diwajibkan melepaskan semua atribut dukungan saat menyaksikan laga PS TNI melawan Persija Jakarta. Hal ini lantaran Persija Jakarta tengah mendapatkan sanksi usai kericuhan kala Macan Kemayoran bertanding kontra Sriwijaya FC.
Pengurus Pusat (PP) The Jakmania pun telah memberikan himbauan dan instruksi terkait hal ini. Melalui akun media sosial resminya, The Jakmania mengatakan bahwa seluruh penggila Persija Jakarta yang akan datang langsung wajib mengikuti arahan ini.
Namun, bukan The Jakmania namanya jika kehilangan ide untuk mendukung tim kesayangan tanpa kreatifitas. Meskipun dilarang untuk memakai jersey, syal, ataupun bendera, para The Jakmania membuat dukungan dengan cara unik.
Seekor harimau didatangkan langsung para The Jakmania menuju lokasi pertandingan di Bogor. Bukan harimau sungguhan memang, melainkan sebuah maskot harimau.
Aksi unik ini pun bertambah kocak, saat sang harimau menggunakan motor untuk datang langsung ke stadion. Meski demikian, PP The Jakmania tetap memberikan pesan kepada sang harimau untuk berhati-hati di jalan.
Jumat, 14 Oktober 2016
Bepe : Kemenangan Hari Ini Untuk The Jakmania
Penyerang Persija Jakarta, Bambang Pamungkas, mengatakan kemenangan yang diraih timnya melawan PS TNI di Stadion Pakansari, Cibinong, Bogor, didedikasikan untuk The Jakmania.
Ya, suporter Persija itu memadati setiap bangku tribun hingga berjumlah 26.100 penonton yang hadir mendukung perjuangan Persija.
Pria yang akrab disapa Bepe itu menilai tanpa The Jakmania yang hadir di Stadion Pakansari, perjuangan Persija bisa sedikit berkurang.
Untuk itu, mantan pemain Persipasi Bandung Raya itu mengucapkan rasa terima kasih sebesar-besarnya untuk The Jakmania.
"Seluruh perjuangan tim sore ini tidak lepas dari The Jakmania yang hadir ke Pakansari," kata Bepe saat sesi jumpa pers seusai laga.
Persija sempat tertinggal dulu oleh gol Suhandi pada menit ke-49, lalu disamakan Greg Nwokolo ketika menit ke 62.
Dua menit ingin berakhirnya babak kedua, Gunawan Dwi Cahyo menjadi pahlawan bagi Persija untuk mengembalikan keadaan hingga peluit babak kedua berakhir.
"Kemenangan ini saya sampaikan untuk The Jakmania semua," tegas Bepe.
Dengan kemenangan ini, Persija berada di posisi ke-14 dengan perolehan 26 poin, sama dengan Persiba Balikpapan di atasnya.(*)
Kamis, 13 Oktober 2016
4 Hal yang Harus Kamu Ketahui Tentang Jakmania
4 Hal yang Harus Kamu Ketahui Tentang Jakmania
“Gue anak Jakarta” Kalimat itu seringkali terlihat di beberapa atribut anak Persija. Klub sepak bola asal Jakarta ini memang memiliki penggemar yang sangat loyalitas. Meskipun mereka berada dalam permainan yang gak kondusif dan bagus tetapi JakMania selalu mendukung dan mengikuti setiap pertandingannya. Kalau kita liat lebih dalam lagi tentang JakMania pasti akan lebih banya nilai negatifnya. Padahal di balik nilai negatifnya, ternyata banyak sekali nilai positifnya yang harus kamu ketahui tentang JakMania.
1 . Selalu Berkordinasi di Setiap Wilayah
JakMania Barat, Timur, Utara, Pusat, Selatan selalu berkordinasi saat mereka semua akan menyaksikan pertandingan klub kesayangannya, khususnya ketika bertanding di stadion utama Gelora Bung Karno. Masing-masing wilayah memiliki beberapa titik kumpul yang berbeda-beda. Itulah yang membuat JakMania solid di Jakarta, meski terkadang juga terjadi bentrokan tetapi tidak masuk kategori fatal hanya salah paham saja.
2 . Selalu Ada The Jak Angel
JakMania juga punya fans wanita. Mereka dijuluki sebagai The Jak Angel. Kumpulan para wanita ini juga adalah fanatik klub sepak bola yang kerap dijuluki macan kemayoran ini. Para The Jak Angel ini selalu tidak ketinggalan update-an pertandingan klub Persija. Makanya, mereka selalu ada di tengah-tengah JakMania. Tak bisa dipungkiri kehadiran The Jak Angel di sela pertandingan juga menjadi bumbu sebagai penyemangat para penggemar Persija saat mendukung tim kesayangannya berlaga.
3. Gemar Menyewa Angkutan Umum
Demi menyaksikan pertandingan kesayangan klubnya yaitu Persija. Para JakMania rela mengeluarkan anggaran untuk menyewa angkutan umum sebagai sarana transportasi untuk pergi ke tempat pertandingan. Dan biasanya yang jadi pilihan favorit anak-anak The Jak adalah Metromini dan juga Mikrolet sebagai sarana transportasi kendaraannya menuju pertandingan.
4. Bermain Alat Musik di Atas Kendaraan
Entah hanya JakMania doang apa pendukung yang lain juga melakukan hal yang sama. JakMania selalu memainkan alat musik di atas kendaraan yang ditumpanginya menuju arena pertandingan klub kesayangannya. Tak lupa juga mereka menyanyikan beberapa lagu kesayangan klubnya dan juga yel-yel dukungannya kepada klub kesayangan.
Ada yang mau tambahin lagi gak?
Rabu, 12 Oktober 2016
Gara Gara Trofeo Persija, The JakMania Mendunia
Trofeo Persija Jakarta yang diselenggarakan di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta, Sabtu (9/4) dihadiri oleh ribuan Jakmania. Pada laga tersebut, Jakmania yang hadir dan membuat suasana semakin meriah ternyata mendapat perhatian dunia
Forum suporter kenamaan dunia, ultras-tifo.net, membahas trofeo Persija yang menurut mereka sangat menarik terutama dari segi Jakmania. Suporter Macan Kemayoran yang hadir memang hampir memenuhi seisi SUGBK.
"Sebanyak 88 ribu fans yang datang menonton pertandingan dan banyak yang berada di luar tanpa tiket hadir di Trofeo Persija. Pertandingan itu dimainkan untuk merayakan ulang tahun Persija. Pada laga tersebut, suporter Persija membuat suasana yang luar biasa," tulis Ultras-tifo.
Tak hanya itu, forum tersebut juga memasang foto-foto aksi Jakmania di SUGBK. Beberapa video aksi Jakmania juga muncul dalam forum tersebut.
Kehadiran Jakmania di SUGBK itu memang dijadikan sebagai mengobati rindu bagi Jakmania menyaksikan laga tim kesayangannya. Pasalnya, mereka jarang menyaksikan Persija berlaga di rumah mereka sendiri, Jakarta.
Berikut ini sejumlah foto yang diunggah dalam forum ultras-tifo.net yang mereka publish pada Senin (11/4).
Selasa, 11 Oktober 2016
" Persija dan The jak mania "
Siapa rakyat indonesia yang gila bola tidak kenal dengan PERSIJA?? PERSIJA adalah klub kebanggaan warga jakarta. PESIJA banyak mempunyai prestasi di dunia sepakbola Indonesia. Klub ini juga menghasilkan pemain pemain berbakat. Klub sepakbola di indonesia hanya satu klub yang tidak pernah tergredadasi yaitu PERSIJA JAKARTA, Walaupun dimusim ini PERSIJA harus tertatih tatih karena bobroknya manegement PERSIJA, tapi PERSIJA berhasil bangkit karena bagi kami JAKMANIA tidak ada kata sejarahnya PERSIJA tergredadasi, walaupun tetangga sebelah yaitu VIKING selalu mencaci kami dan berdoa agar PERSIJA tergredadasi tapi itu semua hanya jadi mipi mereka kalo PERSIJA akan tergredadasi. PERSIJA JAKARTA juga mempunya supoter fanatiknya yaitu THE JAK MANIA, sebuah komunitas pecinta dan pendukung klub PERSIJA JAKARTA. Banyak orang yang sudah mengaku bahwa Jakmania supoter kreatif dan fanatik. Para supooter Persija atau yang biasa dipanggil Jakmania merupakan kumpulan kumpulan yang suka dengan kebudayaan Jakarta.
______ SUKA DUKA MENJADI JAKMANIA_______
kalo ngomongin suka duka mah bisa sampai subuh saya jelasin, tapi saya akan menjelaskan sedikit tentang suka duka jadi JAKMANIA.
1. Kalo jadi Jakmania itu terkenal dengan satu kata loyalitas, ya loyalitas walapun hujan panas terik matahri dan jarak tidak menjadi halangan buat kami, para the jakmania tetap mendukung persija. Bagi kami PERSIJA itu ibarat pacar ke dua atau bisa dibilang juga darah kita, Seperti sekarang saja libur musim kompetisi kami Jakmania sering merasa kangen suasana distadion yang penuh sorak sorai penonton, kangen persija kami berlaga dan menerkam semua musuh.
2. Bisa saling kenal antar jakmania bahkan bisa saling kenal dengan sodara kami yaitu AREMANIA( supoter AREMA MALANG), SLEMANIA( supoter dari klub PSS SLEMAN),dll yang tidak bisa saya tulis satu persatu.
3. dukanya ya bisa diputusin ama pacar karena selalu mentingin PERSIJA dari pada pacarnya, walaupun para jakmania mementingkan PERSIJA, hingga muncul slogan Persija Dulu Baru Kamu. tapi cewe yang beruntung yaitu jika mempunyai cowo para THE JAKMANIA, karen cowo cowonya pada setia hehe.. :D
dan masih banyak lagi suka dukanya, bisa juga buat para pembaca artikel ini dan para pengunjung blog saya bisa menambahkan suka dukanya menjadi JAKMANIA
Sekian dari saya jika artikel ini kurang berkenan, dan kata katanya masih kurang sopan buat para pembaca saya mohon maaf,
HIDUP THE JAKMANIA
______ SUKA DUKA MENJADI JAKMANIA_______
kalo ngomongin suka duka mah bisa sampai subuh saya jelasin, tapi saya akan menjelaskan sedikit tentang suka duka jadi JAKMANIA.
1. Kalo jadi Jakmania itu terkenal dengan satu kata loyalitas, ya loyalitas walapun hujan panas terik matahri dan jarak tidak menjadi halangan buat kami, para the jakmania tetap mendukung persija. Bagi kami PERSIJA itu ibarat pacar ke dua atau bisa dibilang juga darah kita, Seperti sekarang saja libur musim kompetisi kami Jakmania sering merasa kangen suasana distadion yang penuh sorak sorai penonton, kangen persija kami berlaga dan menerkam semua musuh.
2. Bisa saling kenal antar jakmania bahkan bisa saling kenal dengan sodara kami yaitu AREMANIA( supoter AREMA MALANG), SLEMANIA( supoter dari klub PSS SLEMAN),dll yang tidak bisa saya tulis satu persatu.
3. dukanya ya bisa diputusin ama pacar karena selalu mentingin PERSIJA dari pada pacarnya, walaupun para jakmania mementingkan PERSIJA, hingga muncul slogan Persija Dulu Baru Kamu. tapi cewe yang beruntung yaitu jika mempunyai cowo para THE JAKMANIA, karen cowo cowonya pada setia hehe.. :D
dan masih banyak lagi suka dukanya, bisa juga buat para pembaca artikel ini dan para pengunjung blog saya bisa menambahkan suka dukanya menjadi JAKMANIA
Sekian dari saya jika artikel ini kurang berkenan, dan kata katanya masih kurang sopan buat para pembaca saya mohon maaf,
HIDUP THE JAKMANIA
Senin, 10 Oktober 2016
Lika-Liku Suporter Persija: Dari VIJers, PFC, hingga The Jakmania . ( Bagian 5 )
Tuan rumah di tanah sendiri ??
Persija memang kini sudah memiliki The Jakmania sebagai suporter setia yang selalu memenuhi stadion ketika mereka bertanding. Puluhan ribu orang mau datang ke stadion untuk mendukung mereka, bahkan di tengah prestasi yang seret. Namun banyaknya pemberitaan dan anggapan masyarakat yang negatif terhadap mereka, ada tanda-tanda bahwa Persija belum sepenuhnya mampu merangkul semua lapisan masyarakat di kota metropolitan ini.
Kultur suporter memang tak sepenuhnya hidup di Jakarta. The Jakmania pun lebih didominasi oleh kelas menengah bawah, sementara kelas menengah atas lebih tertarik pada hiburan layar kaca: sepakbola benua Eropa. Hanya ketika timnas Indonesia sedang dalam performa bagus dan bertanding di Gelora Bung Karno lah lapisan menengah atas baru tergelitik untuk datang ke stadion dan menjadi suporter.
Tapi di kota dengan tingkat ketidakacuhan yang begitu tinggi pada sepakbola dalam negeri, perkembangan yang sudah terjadi pada The Jakmania dengan jumlah mereka yang masif itu adalah sesuatu yang tetap patut diacungi jempol. Bahkan meski mayoritas anggotanya berasal dari satu kelas ekonomi yang sama.
“Jakarta itu heterogen, tapi enggak berarti enggak bisa punya suporter,” kata Bung Ferry. “Gua cuma pengen, Persija jadi tuan rumah di kampungnya sendiri.”
Minggu, 09 Oktober 2016
Lika-Liku Suporter Persija: Dari VIJers, PFC, hingga The Jakmania . ( Bagian 4 )
Tiket Gratis di Awal Era Bang Yos?
>> Bersambung.... Ke bagian ke 5 ......
“(Memang) banyak kerahan dari kelurahan, itu dari Bang Yos sendiri. Tapi Jakmania beda dengan (kerahan) Bang Yos,” aku Bung Ferry. “Kita kadang malah agak terganggu sama mereka. Kita (Jakmania) kan nyanyi, pake drum, mereka bawa tanjidor (kesenian musik khas Betawi), bawa alat musik. Makanya akhirnya kita minta sama Persija supaya suporter yang itu dipisahin.”
Selain faktor emosional geografis yang dikelitik oleh The Jakmania, perkembangan organisasi ini yang begitu pesat pada pergantian milenium ketiga lalu juga terjadi berkat revolusi yang terjadi pada tubuh Persija sendiri. Berkebalikan dengan kondisi pada pertengahan 1990an, mulai 1997 hingga 2003, Persija merupakan tim yang sangat makmur dengan banyaknya sponsor yang masuk. Ini tentu saja tak lepas dari partisipasi aktif pemerintah daerah yang membantu mendorong sponsor untuk mendukung Persija pada era ini.
Tak mengherankan jika mulai 1999, Persija mulai mampu mengumpulkan pemain-pemain terbaik di timnya, dipandu oleh Ivan Kolev yang membangun pondasi Persija. Pelatih yang kelak melatih timnas Indonesia ini memang tak sempat merasakan juara bersama ‘Si Oren’, julukan baru Persija setelah berganti warna menjadi oranye, tapi ialah yang membangun Persija sebelum diteruskan oleh Sofyan Hadi untuk membawa Persija menjuarai Liga Indonesia VII pada tahun 2001.
Imbasnya, peningkatan jumlah anggota Jakmania pun melesat pesat. “Puncaknya di Liga Indonesia VII. Sampai 12.000 anggota baru yang mendaftar dalam waktu setengah musim,” kata Bung Ferry.
Dalam waktu singkat, Persija menjadi salah satu kelompok suporter terbesar di Indonesia dan salah satu yang paling berpengaruh juga. Pengaruhnya pun terasa bagi klub sendiri, yang sering diprotes oleh para suporter jika ada hal-hal yang dirasa tak tepat.
Tetapi besarnya jumlah anggota tak melulu berujung pada hal yang baik. Dengan banyaknya kasus kekerasan yang melibatkan The Jakmania dan kelompok suporter lain selama beberapa tahun belakangan, nama The Jak pun menjadi buruk. Pelan-pelan muncul anggapan bahwa The Jak hanya bisa membuat ricuh, padahal klubnya sendiri tengah terpuruk secara prestasi. Tapi benarkah seperti itu?
“Masyarakat kita sudah terlalu parno dengan massa dalam jumlah besar. Mau itu massa sepakbola, musik, atau partai, kita sudah parno. Tapi kalau boleh dibandingin, The Jak sudah menonton di Lebak Bulus selama belasan tahun, apakah stadion Lebak Bulus pernah dibakar? Tidak pernah sekalipun.” kata Bung Ferry.
“Stadion Lebak Bulus pernah punya sejarah bakar-bakaran, tapi terjadi di konser Metallica. Jadi jangan dibilang (Jakmania) rusuh. Yang lebih rusuh yang mana?”
“Cuma mungkin karena sepakbola frekuensinya lebih banyak, orang lebih menyorotinya. Lebak bulus pernah dua kali, lho, kerusuhan yang parah, waktu (konser) Iwan Fals, sama waktu Metallica.”
>> Bersambung.... Ke bagian ke 5 ......
Sabtu, 08 Oktober 2016
Lika-Liku Suporter Persija: Dari VIJers, PFC, hingga The Jakmania . ( Bagian 3 )
Revolusi Sutiyoso
>> Bersambung.... Ke bagian ke 4 .....
Nasib Persija baru berubah ketika Sutiyoso menjadi gubernur DKI Jakarta. Sejak awal, Bang Yos, sapaan akrab sang Gubernur, memang punya niatan untuk membangkitkan Persija sebagai klub sepakbola yang mewakili Jakarta.
“Saya ingin Jakarta memiliki tim yang membanggakan warganya,” kata Bang Yos saat itu. Revolusi wajah Persija pun dimulai.
Salah satu perubahan yang terjadi adalah dalam hal suporter. Harus diakui bahwa sejak 1980an, Persija memang tak memiliki banyak suporter (“Praktis bisa dibilang enggak ada!” aku Ferry Indra Syarief, salah satu pendiri dan mantan ketua Jakmania). Klub ibukota ini memang pernah punya kelompok suporter bernama PFC alias Persija Fans Club, namun keanggotaannya terbatas pada keluarga pemain dan pengurus Persija serta artis-artis ibukota yang memang mendukung Macan Kemayoran.
‘Gagalnya’ PFC sebagai sebuah klub fans terlihat ketika Persija bertanding di final Perserikatan 1988 melawan Persebaya Surabaya di Senayan. “(Gelora Bung Karno) itu 24 sektor, lho. Persija cuma satu sektor, itu pun enggak pakai seragam. Cuma satu sektor yang pakai merah, karena Persija waktu itu merah, sisanya ijo semua,” kenang Bung Ferry.
The Jakmania berawal dari pikiran sederhana Bung Ferry dan kawan-kawan yang saat itu masih mahasiswa: bagaimana menonton pertandingan dengan membayar tiket yang lebih murah? Jawabannya adalah menjadi anggota fans klub. Masalahnya, pada tahun 1997, Persija tak memiliki fans klub (PFC sudah tak jelas kabarnya ketika itu). Bung Ferry dkk. pun didorong oleh pengurus Persija seperti Diza Rasyid Ali dan Edi Supatmo untuk mendirikan fans klub. Pengurus klub menjadi fasilitator, sementara kaum muda yaitu Bung Ferry dkk sebagai penggerak dan pembentuk organisasi.
Gugun Gondrong dipilih sebagai ketua karena statusnya sebagai figur publik, sementara Ferry Indra Syarief menjadi wakilnya. Nama The Jakmania dipilih didasari oleh keinginan pihak klub untuk memiliki nama julukan yang lebih mencerminkan Jakarta - dan The Jak adalah pilihan yang dianggap ideal, sehingga nama fansnya menjadi The Jakmania.
Meski memiliki ketua seorang public figure seperti beberapa ketua PFC dulu, The Jakmania tak mengulangi kesalahan PFC. Tak ada eksklusivitas di tubuh organisasi suporter yang baru terbentuk ini, yang ada malahan upaya perekrutan yang meluas dengan cara pembentukan sistem koordinator wilayah (korwil). Setiap korwil bertanggung jawab untuk mengurus wilayahnya, termasuk di dalamnya mengajak lebih banyak orang untuk mendukung Persija dan bergabung dalam The Jakmania.
Kembali, mengingat betapa heterogennya ibukota, tugas ini tentu saja bukan hal yang mudah. Strateginya kemudian adalah menyentuh aspek emosional orang-orang: bahwa ketika Anda telah menghuni suatu daerah dan dalam waktu lama, sudah sepantasnya Anda mendukung klub sepakbola di mana Anda tinggal, bukan klub daerah Anda berasal.
“Gua coba tanamin ke anak-anak muda, gua bilang elu berasal dari manapun, tapi sekarang lu tinggal di Jakarta. Kalau cuma orang Betawi yang berkewajiban, orang Betawi sendiri udah banyak yang di Bogor, di Tangerang, di Bekasi, dan mereka dukung kesebelasan di sana,” cerita Bung Ferry.
“Mulai generasi kedua pendatang, (mereka) mulai ikut gabung ke kita. ‘Oh iya bener juga, gua lahir di Jakarta, gua tinggal di Jakarta, ya gua dukung Persija.’ Dan cara itu ternyata ampuh.”
>> Bersambung.... Ke bagian ke 4 .....
Jumat, 07 Oktober 2016
Lika-Liku Suporter Persija: Dari VIJers, PFC, hingga The Jakmania . ( Bagian 2 )
Kedekatan Emosional Jadi Sumber Dukungan
>> Bersambung.... Ke bagian ke 3 .....
Pada era VIJ, klub ini bisa cukup mudah meraup dukungan dengan “menjual” nasionalisme. Lalu bagaimana setelah Indonesia merdeka dan VIJ berubah menjadi Persija? Apakah masih ada dukungan bagi klub yang terus mengenakan seragam merah mereka meski telah berganti nama?
Jawabannya: masih. Namun, ada pergeseran alasan. Jika dulu warga pribumi mendukung VIJ sebagai bentuk perlawanan mereka atas VBO, NIVU, dan penjajahan Belanda, di era 1950-70an, klub yang saat itu sudah berganti nama menjadi Persija tersebut mendapatkan dukungan besar dari warga pribumi karena kedekatan emosional pada para pemain.
Hal tersebut sangat tampak terutama di tahun 1964, ketika Persija bisa menjadi juara Perserikatan tanpa terkalahkan. Selain memang karena hasil-hasil akhir yang memuaskan di atas lapangan, fakta bahwa skuat Persija di masa itu diisi oleh pemain-pemain lokal binaan Persija menjadi alasan kenapa warga Jakarta ramai-ramai mendukung tim ini.
“Timnya muda, dan (pemain-pemain) kayak Soetjipto Soentoro itu orang Gandaria. Adiknya, Soegito, juga orang Gandaria. Fam Tek Fong, Kwee Tik Lion itu orang-orang Glodok, yang nggak terlalu jauh dari Tanah Abang,” kata Gerry. “Istilahnya, masih orang-orang kita (Jakarta) juga, orang-orang yang kita kenal.”
Pada tahun 1973, ketika Persija juara, bahkan para suporter Persija sampai masuk ke dalam lapangan untuk merayakan gol Andi Lala. Majalah Tempo ketika itu memasang tajuk utama “Hadiah untuk Warga Kota”.
Penurunan prestasi yang dialami oleh Persija di tahun 1980an, terutama ketika mereka hampir terdegradasi di tahun 1985, menjadi salah satu penyebab mengapa terjadi penurunan dukungan juga terhadap Persija.
“Kultur orang Jakarta dulu kan memang kalau timnya bagus, mereka berbondong-bondong, kalau timnya jelek, ntar-ntaran dulu deh.” lanjut Gerry.
Urbanisasi tentu saja jadi penyebab yang besar juga. Makin banyaknya orang-orang daerah yang pindah ke Jakarta pada era 80-90an membuat kota ini dihuni oleh warga yang makin beragam asalnya. Masalahnya, mereka yang datang dari daerah pun lebih memilih klub dari daerah asalnya. Orang Surabaya lebih memilih mendukung Persebaya. Orang Malang tentu saja Arema.
Tanpa dukungan warga Betawi dan minimnya pendatang yang mau mendukung Persija membuat jumlah dukungan untuk klub ini makin minim. Apalagi, prestasi di atas lapangan pun tak membantu.
“Titik nadir Persija itu tahun ‘90an. Hampir degradasi juga, secara finansial juga lebih terpuruk. Paling yang nonton cuma artis kayak Indra Lesmana atau keluarga deket (Persija) saja. Selebihnya anak-anak muda Jakarta, lebih nonton Pelita yang lebih wah waktu itu,” ujar Gerry.
>> Bersambung.... Ke bagian ke 3 .....
Kamis, 06 Oktober 2016
Lika-Liku Suporter Persija: Dari VIJers, PFC, hingga The Jakmania . ( Bagian 1 )
Tidaklah mudah menyatukan warga DKI Jakarta yang heterogen untuk mendukung tim ibukota mereka, PERSIJA Jakarta. Penulis ingin menuangkan sebuah kisah tentang salah satu suporter terbesar di Indonesia, The Jakmania dalam artikel ini...
Persija Jakarta memang sedang alami kemunduran yang dalam. Tak ada prestasi dalam beberapa tahun terakhir yang mereka dapatkan, dan alih-alih prestasi, lebih banyak kabar buruk yang mengiri perjalanan mereka – termasuk, tentu saja, isu gaji dan masalah ketidakjelasan stadion.
Meski begitu, klub ibukota ini tetap merupakan salah satu klub terbesar di Indonesia. Dan meski selama ini memiliki imej yang kurang baik di mata masyarakat, suporter mereka, The Jakmania, juga tetap merupakan salah satu yang terbesar di negeri ini. Lihat saja bagaimana oranye-nya tribun stadion Gelora Bung Karno ketika Persija mendapatkan izin untuk bermain di sana. Atau bagaimana baju oranye dengan mudah kita lihat di jalanan Jakarta setiap kali hari pertandingan kandang Persija tiba. Juga kita lihat bagaimana tagar #PERSIJADAY menjadi trending topic tiap kali mereka bermain di Jakarta ataupun di luar Jakarta.
The Jak dan Persija memang merupakan dua hal yang tak terpisahkan saat ini. Tapi situasinya tak selalu seperti itu. Ada masa ketika Persija belum mendapatkan dukungan yang luar biasa dari Jakmania karena kelompok suporter yang identik dengan simbol ibu jari dan telunjuk tangan kanan yang membentuk huruf J ini baru didirikan tahun 1997. Persija sendiri sudah berdiri sejak tahun 1928 (sebagai Voetbalbond Indonesische Jacatra atau VIJ), sehingga masa ketika Persija tak memiliki Jakmania jelas jauh lebih panjang.
Masalahnya, Jakarta bukanlah kota dengan kultur suporter sepakbola yang begitu kental. Ini bukanlah kota seperti Bandung, Malang, atau Surabaya yang mempunyai kultur suporter yang kuat, di mana kebiasaan mendukung klub sepakbola yang mewakili kota mereka dilakukan secara turun temurun.
Tentu saja hal itu tidak berarti Persija (dan VIJ) tidak memiliki suporter sejak dulu. Berkebalikan dengan anggapan sebagian orang bahwa Persija tak punya suporter sebelum era Jakmania, klub yang dulu identik dengan warna merah-putih ini sudah mempunyai suporter sejak era VIJ menjuarai Perserikatan dalam empat musim di era 1930an.
“Masuknya beberapa tokoh nasional seperti MH Thamrin sangat mempengaruhi orang-orang Betawi dan pribumi mendukung VIJ,” kata Gerry Putra, jurnalis yang juga seorang pemerhati sejarah Persija."
“Koran Pemandangan, yang saat itu jadi media tak resmi VIJ, secara tidak langsung turut membantu propaganda VIJ lewat pemberitaan dan iklan-iklannya, yang bikin orang-orang Betawi mau dukung VIJ.”
Kultur suporter juga terlihat dari bagaimana mayoritas suporter sejak era lampau terbentuk di daerah-daerah tertentu seperti Tanah Abang, Jatibaru, dan Kebon Jeruk. Inilah daerah-daerah yang paling banyak memberikan massa suporter ketika VIJ dan Persija bertanding, baik ketika mereka bermain di Petojo, Ikada, ataupun Menteng.
Menariknya, fenomena tersebut memang disebabkan oleh demografi masyarakat pribumi Jakarta. Sejak era penjajahan Belanda, Kebon Jeruk dan Tanah Abang memang merupakan daerah yang dihuni oleh masyarakat pribumi. Dan besarnya dukungan pribumi terhadap VIJ saat itu memang tak terlepas dari sejarah VIJ sendiri, yang berdiri sebagai kubu perlawanan atas VBO, klub bentukan Belanda di Jakarta.
Bukti sejarah bahkan menunjukkan bahwa di masa itu, istilah ‘VIJers’ bagi para pendukung VIJ sudah muncul. Lagi-lagi, ini adalah propaganda dari para pendiri VIJ, Soeri dan Alie, yang memang terus berusaha “memanaskan” jiwa nasionalisme para warga pribumi agar memberikan dukungan bagi VIJ.
>> Bersambung.... Ke bagian ke 2 .....
Selasa, 04 Oktober 2016
Jak Mania Not Politic
Kongres PSSI pernah dilaksanakan di Hotel Indonesia. Saat kongres berjalan, ada spanduk terpampang di depan hotel. Spanduk yang menyatakan Jakmania mendukung salah satu calon. Tanpa ragu, saya yang kala itu menjabat sebagai Ketua Umum the Jakmania, segera menurunkan spanduk tsb. Sempat ada teguran dari pihak polisi dan keamanan hotel, tapi mereka paham ketika saya memperkenalkan diri sebagai pimpinan the Jakmania dan the Jakmania tidak akan memberikan pernyataan dukungan pada siapapun maupun apapun selain dukungan pada Persija Jakarta.
Saya harap, baik Pengurus maupun Anggota the Jakmania, bila melihat spanduk Cagub DKI yang membawa nama the Jakmania, jangan ragu untuk menurunkannya! Karena the Jakmania adalah organisasi suporter pendukung Persija. Dan sebagai organisasi yang terpimpin, tidak boleh ada satupun anggota yang membawa nama the Jakmania dalam menyatakan sikap politiknya.
Saya tidak anti politik. Tapi saya harus menjaga semangat murni pendirian the Jakmania. Semangat untuk menyatukan anak2 muda Jakarta. Semangat untuk menjadikan Persija 'Raja' di kampungnya sendiri.
Persija Sampai Mati.
" Bung Ferry JM-02 "
Senin, 03 Oktober 2016
No Politik
Ketika ada yang bawa The Jakmania mendukung salah satu partai politik, saya tentang. Ketika The Jakmania diarahkan untuk mendukung Jakarta Fc, saya lawan. Demikian juga ketika ada yang coba2 memanfaatkan The Jakmania memperkuat kubunya, saya tidak akan diam. Saya cuma ingin The Jakmania jadi raja bagi dirinya sendiri. Bukan hamba bagi siapapun !!
-Bung Ferry-
(Pendiri Jakmania)
Sabtu, 01 Oktober 2016
BICARA BOLA : HIBURAN, KEBANGGAAN, PROFESI, DAN POLITIK
Sepakbola itu awalnya sekedar permainan yg menghibur baik bagi pelakunya maupun penontonnya. Ketika mulai dibuat menjadi pertandingan yg melibatkan banyak tim, sepakbola berkembang menjadi sebuah kebanggaan. Semakin besar semakin dikejar prestasi dan akhirnya sepakbola dimenej dengan sedemikian rupa melahirkan berbagai profesi, pemain, pelatih, manajer, wasit, dll. Melihat animo yang begitu besar, menjadi kebanggaan daerah, dan mempengaruhi hajat hidup orang banyak, sepakbola mulai dilirik oleh para politikus untuk mencari simpati dan dukungan. Semua terjadi secara alami. Tapi seperti hal apapun di muka bumi ini, selalu saja ada positif dan negatif. Sepakbola yang tadinya hanya olahraga permainan, berkembang menjadi pemuasan ambisi sehingga kadang melupakan semangat sportifitas. Sepakbola yang menciptakan lahan bisnis namun karena ketamakan akhirnya lupa akan keseimbangan hak dan kewajiban. Rasa bangga yg amat sangat tapi sempit, melahirkan rivalitas yang tidak sehat. Terakhir, sepakbola menjadi 'alat', dan seperti juga kodratnya sebagai 'alat' maka sepakbola bisa diatur sesuai kemauan yang punya 'alat' demi kepentingan pribadi atau golongannya.
HIBURAN
Ga ada yg tau persis kenapa Sepakbola jadi olahraga permainan yg paling banyak digemari di seluruh dunia. Olahraga Beregu masih ada Basket, Voli, Polo Air, Hoki, dll. Popularitas Badminton, Tinju dan Balapan juga ga kalah. Mungkin efek dari didikan orang tua sejak kecil kali ya. Bayi aja pas mulai bisa duduk udah dikasih maenan bola. Dan Bola memang salah satu mainan yg gampang dimaenin. Cukup nendang ke tembok, eh dia balik lagi. Demen kan? Gede dikit, kita mulai main bola di sekolahan, di halaman rumah, di lapangan voli, dan di taman2. Kadang bolanya juga bukan bola beneran. Ada bola plastik, bola tenis, bahkan ada juga kertas dikumpulin, dikaretin, dibentuk jadi bulat. Yg penting bisa ditendang dan ngeglinding.
Lebih gede lagi, kita mulai mengarahkan mata kita pada pertandingan2 bola yg lebih besar. Liga lokal, liga Eropa, Tim Nasional, dan pastinya Piala Dunia. Gw pernah suka liat permainan Tim PON Aceh. Gagah kesannya liat mereka main dengan kostum warna putih. Pernah juga suka liat Chelsea di era Ruud Gullit, sexy football. Atau AC Milan dengan trio Belandanya, dream team. Tim Nasional generasi Iswadi Idris juga bikin gue tergila-gila dengan bola. Kemudian ada Binatama, Garuda, Primavera dan Bareti. Bicara Piala Dunia lebih dahsyat lagi, gue suka banget sama Total Football Tim Belanda 1974, Samba Brazil 1982, Pressure Football Sovyet 1986, atau Italia 1988 kala Vicini merobah catenacio menjadi sepakbola menyerang. Dan terakhir tentunya tiki taka Spanyol.
Sekarang kita lebih dimanjakan lagi. Banyaknya stasiun TV membuat kita dengan mudah menyaksikan kompetisi2 di Eropa. Klo sepakbola lokal, kita kan kagum sama kecepatan seorang Aliyudin. Giring bola ala M. Ilham yg seperti menari. Atau lompatan tinggi Bepe ketika menerima umpan depan kotak penalti. Serta tendangan bebas Marcio Souza. Klo di Eropa atau Amerika Latin, lebih banyak lagi. Terpukau kita dengan tehnik mereka memainkan bola. Kagum akan figur2 sentral seperti Zidane, Christian Ronaldo, Lionel Messi, dll. Sampai disini, sepakbola benar2 menjadi sebuah hiburan yg mengasikan. Nonton sendiri sambil nyiapin kudapan dan stand by depan tv juga asik. Atau klo takut ngantuk ya pergi ke cafe sambil ngebir bareng temen2 jadi lebih bebas teriak. Pokoknya bener2 full refreshing. Sepakbola menghibur. Wajar kalo banyak yg bangga menggunakan kostum tim luar dibandingkan tim nasional atau tim lokal sendiri. Ini soal kualitas hiburan.
Jadi klo bicara sepakbola itu hiburan, ikuti aja kata hati. Mau ikut aktif di komunitas2 pecinta klub luar ya monggo aja. Ngobrol asik tentang klub kecintaan, dan saling bertukar informasi terbaru, serta peluang mendapatkan merchandise klub dengan lebih mudah. Klo bisa malah jangan cuma sekedar jadi anggota, tapi lebih aktif lagi, klo kata anak sekarang biar eksis gitu. Hal itu bukan berarti jadi suatu yg negatif bagi perkembangan sepakbola dalam negeri, karena dalam setiap hal yg lebih maju, kita pasti bisa ambil sesuatu yg baik untuk disumbangkan ke sepakbola nasional. Dan tentunya juga ada kebaikan buat Persija dong.
KEBANGGAAN
Gak asik nonton bola kalo cuma jadi penonton netral. Pilih salah satu tim dan cari temen yg ga sepaham. Maka tontonan akan jadi lebih seru. Di Indonesia. demi tuntutan yg namanya Prestasi Nasional, maka diselenggarakanlah Kompetisi Nasional. Klo udah gini kan pasti mulai ada pengkotak-kotakan alami dimana masing2 penggemar akan memilih siapa tim favoritnya. Ikatan primodial di negara kita masih kuat. Makanya mayoritas pendukung sepakbola lokal kita adalah pendukung tradisional. Dimana dia tinggal, disitu tim yang dia dukung. Atau ngikut orang tuanya. Bapaknya doyan Persija, anaknya dari kecil udah dijejelin tuk nonton. Bahkan ada juga yg menganggap klubnya itu cerminan dari karakter sukunya.
Klo dah sampe disini, sepakbola jadi sebuah kebanggaan. Begitu juara, langsung nandak2 di jalanan, geber2 motor keliling kota, bakar ayam, ngasi nama anaknya dengan nama2 pemain pujaan, dan selanjutnya pake kaos tim kemana-mana, shollat jum'at dipake, ke mall dipake, siskamling dipake, nganter anak ke posyandu juga dipake. Sepakbola jadi sebuah kebanggaan daerah. Muncullah nama2 yg berbau kedaerahan seperti Macan Kemayoran, Ayam Kinantan, Yosim Pancar, Anging Mamiri, Tim Urang Awak, atau Laskar Wong Kito.
Tapi sejalan dengan kebanggaan, lahir juga sebuah rivalitas! Persaingan antara tim2 yg sering ketemu dan saling mengalahkan membuat hati jadi ga puas untuk hanya sekedar merayakan kemenangan. Saling ledek berkembang jadi dendam kesumat. Kata2 hinaan ditulis dalam kaos, disuarakan pada yel dan lagu, dan banyak sekali tulisan2 di tembok2 jalan. Ketika rivalitas itu berlangsung menahun, perseteruan fisik ga bisa dicegah lagi. Sebetulnya sih kalo sekedar rivalitas suporter bola itu asik2 aje. Tapi sayang ini berkembang jadi pencegatan di jalan2, doktrin2 ga sehat, fitnah2 di dumay, dan ajakan2 kepada suporter lain tuk ikut membantu.
Sesuatu yang berlebihan pasti menimbulkan efek negatif. Sikap antipati masyarakat, imej buruk yg nempel barengan dengan kostum kebanggaan, ditambah pemberitaan di media yg seringkali tidak cek and ricek. Klo udah masuk taraf yg merugikan bagi kita dan terutama bagi klub kita, apakah hal ini masih mau kita biarkan? Damai memang sulit, meski bukan berarti tidak mungkin. Tapi ajakan yang masih masuk di akal serta paling memungkinkan adalah ajakan untuk fokus dukung tim kebanggaan aje. Ga usah pake ikut2 bikin kaos hinaan, atau lagu ejekan ke suporter lawan. Klo lagu tuk memberikan penekanan pada tim lawan saat bertanding menurut gw sah-sah aje. Namanya juga suporter, gimana caranya jatuhin mental lawan biar kalah. Tapi tetep cara suporter, ga pake maen fisik. Cukup dari tribun, tereak sekencengnya ampe jakunlu lompat keluar, gigilu otek, bajulu basah kuyup bau mayat karena lu kesetanan naek2 pager ... ya itu masih masuk romantika rivalitas. Ga usah juga pake bawa2 sajam buat siap2 kalo dicegat. Di mata gw, orang yg tawuran pake sajam berarti nyalinya ada disitu. Kunfayakun aja, perlindungan yg paling sahih itu datangnya dari Allah. Bawa2 sajam klo lu lagi kesetanan bisa2 liat bocah di jalan maen lu sunatin aje.
PROFESI
Pemain bola yg sehari-harinya ga main bola dianggap faktor utama sepakbola Indonesia ga bisa bersaing dengan negara2 lain. Oleh karena itu, Indonesia mendahului Jepang dan Korea tuk bikin liga profesional yg dinamakan GALATAMA, Liga Sepakbola Utama. Pemain bola jadi sebuah profesi. Tiap hari kerjaannya cuma latihan dan bertanding (lebih bagus dari tentara kan yang latihan melulu tapi ga perang-perang meski pulau udah dicaplokin). Gaji pemain bola juga ditingkatkan biar banyak yg tertarik tuk menjadikannya sebuah profesi. Semakin maju, semakin profesional, semakin dibutuhkan tenaga2 lain tuk dijadikan tenaga profesional juga. Pelatih Tehnik, Pelatih Kiper, Pelatih Fisik, Dokter TIm, Masseur, Perlengkapan, Media Officer, Sekretaris Tim, dan Manajer.
Mulailah sepakbola jadi lahan bisnis. Pake sponsor segala, ada Mes, ada lapangan latihan, dlsb. Setelah penyatuan 2 kompetisi di tanah air, yang pro dan amatir jadi satu menjadi Liga Indonesia, sepakbola lokal jadi primadona siaran tv. Ratingnya malah ngalahin siaran klub luar. Kalo mau jujur, ini juga efek dari menjamurnya komunitas2 suporter di tiap kota. Lahirnya Aremania, Bonek, Viking, the Jakmania, Pasoepati, Macz Man, Asykar Theking, Benteng Viola, Benteng Mania, Brajamusti, Panser Biru, dll menjadi pemicu gairah sepakbola di Indonesia.
Tanpa disadari, hebohnya liga jadi buka lapangan kerja bagi banyak orang. Mulai dari tukang kaos, pedagang asongan, hingga satpam stadion. Koran jadi laku, jalan tol jadi rame, busway padat, tukang parkir makmur, supir bis girang. Tukang Bakmi di Lb Bulus aja bolak balik nanya ke gw kapan Persija maen di Lebak Bulus lagi. Dagangan cepet abis bisa cepet nyetor ke bini. Menarik untuk ditelusuri berapa besar peredaran uang ketika kompetisi berjalan. Begitu ketemu angkanya, pasti pemerintah ga bakal sembarangan menghentikan kompetisi karena ternyata berpengaruh banget sama hajat hidup orang banyak.
Belakangan ini muncul banyak suporter kreatif dan jeli liat peluang. Mereka bikin kaos2 dengan desain yg harus diakui sangat menarik. Gw berharap semua dijalanin tanpa melupakan aturan2 main sebagai pecinta Persija. Para Jak Lapak itu sudah saatnya berpikir bagaimana hasil pendapatannya bisa jadi kontribusi positif buat Persija. Biar gimana, kalo ga ada Persija, maka lahannya pasti bledos. Jadi hindari pembajakan jersey Persija. Klub profesional juga sangat mengandalkan pemasukan dari penjualan jersey. Sukur-sukur para Jak lapak itu kumpul dan urun rembuk tuk bikin suatu gebrakan dimana sebagian dari keuntungannya diperuntukkan bagi Persija.
POLITIK
Eng ing eng! Ini udah ga bisa dicegah lagi. Terutama di Indonesia. Lahirnya Bonek terjadi di masa Gubernur Basofi Sudirman dan Cak Narto sebagai Walikota Surabaya. Lahirnya the Jakmania juga terjadi di era Bang Yos jadi Gubernur. Popularitas keduanya memang naik. Meski Bang Yos tidak pernah mengkaitkan politik selama membina Persija, namun siapapun anak the Jakmania pasti akan milih dia saat pencalonan. Di era Bang Yos, Persija jadi anak emas dan mengalami masa jaya. Dana melimpah, suporter dirangkul, jajaran Pemda dukung banget. Pokoknya jadi anak manja deh kita. Mungkin karena berbagai fasilitas itulah yg membuat kita jadi anak emas, jadi 'yang punya' Jakarta.
Popularitas Bang Yos atau klo di Italia ada Silvio Berlusconi, membuat semua tokoh2 politik mulai nengok sektor ini. Mereka melihat peluang untuk menaikan popularitas dengan menjadi pembina dadakan, fanatik kepaksa, dan ngaku cinta mati ama klub (mestinya kita suruh sumpah pocong ya). Sayangnya klo Bang Yos membentuk dulu Persija yang kuat, kemudian merangkul suporter, terakhir bikin orang2 politik jadi suka bola, sekarang para politikus itu justru jadi kebalikannya, suporter diajak kampanye. Belum ada bukti udah minta dukungan dulu dengan janji klo kepilih akan dia bantu abis klubnya.
Gampang banget memang. Masa yg sudah terkoordinir tinggal pegang pentolannya suru pake baju gambar cagub. Tanpa sadar ini justru cara membina suporter yang tidak bagus. Para pentolan suporter yg tadinya murni cinta klub, sekarang mulai mikir, ternyata klo jadi pentolan bisa ada income tambahan yg lumayan gede nih. Kan cagub ga mungkin ngerahin masa klo nang adong hepeng nya. Ketika uang sudah merasuki dunia suporter, sudah ga murni lagi segala bentuk dukungan yg ada. Sudah mulai beda kepentingan. Pro dan Kontra timbul dan akhirnya muncul perpecahan. Suasana tribun yg tadinya harmonis jadi berubah. Hadeuh???!!!
Politik ga bisa dihindari. Banyak suporter yg juga anggota partai ataupun ormas. Ga masalah, kan itu hak mereka. Ketika seorang pentolan suporter mau mendukung seseorang ya silahkan. Tapi jangan mengatasnamakan organisasi. Jangan menggunakan atribut Persija/the Jakmania. Jangan pake atribut politik saat nonton bola. Dan jangan bawa2 anggotanya untuk ikut dukung yg dia dukung. Biar gimana anggotanya pasti sudah tunduk secara psikologis ke dia. Ada yg berdalih... "kan cuma sekedar kampanye, soal milih mah tergantung hati masing2".... Apapun bentuknya, dia sudah memanfaatkan fasilitas organisasi suporter untuk kepentingan dia sendiri. Organisasi Suporter itu didirikan untuk kepentingan klub.
Ada juga pentolan suporter yang maju jadi caleg. Ini juga ga masalah kok. Masa politikus ga boleh seneng ama bola. Masa suporter ga boleh berpolitik? Lalu apa dia harus meninggalkan jabatannya? Ini yg rumit. Tergantung rapat pengurus aja. Kadang kita juga harus liat figurnya. Klo dia selama ini ga pernah campur aduk urusan partainya ke organisasi suporter, berarti kita tau klo dia sangat menjaga hal2 yg sensitif dan bisa menjadi perdebatan sengit. Tapi klo dia ga pernah nongol di organisasi terus tiba2 cuap2 dimana-mana klo dia the Jakmania, nah itu yg kudu diurus. Jangan sampai anggota yg ga tau apa2 langsung menganggap dia figur yg layak untuk mewakili aspirasi suporter Persija. Pembohongan publik itu namanya.
PERSIJA
Persija dan the Jakmania jadi salah satu bagian hidup kita yang terindah. Nonton Persija kaya orang kehipnotis. Tereak seenaknya, begitu kelar pertandingan baru sadar kembali ke kehidupan yg nyata. Besok harus kerja, kuliah atau sekolah. Inget lagi ama tagihan listrik, tugas dari bos yg belum tuntas, janji ketemu dosen, mikir ketemu pacar di sekolah, dlsb. Aktif di the Jakmania juga banyak enaknya. Bisa kenal banyak orang, dan bisa tau tempat2 di Jakarta bahkan di luar kota yang ujung-ujungnya jadi bisa banyak alternatif kulinernya (gw banget yah). Hubungan Persija dengan the jakmania adalah hubungan emosional belaka. Tidak ada rantai komando. Namun ketika ada Tokoh LPI mempertanyakan kenapa the Jakmania tidak beli aja saham Persija dan kelola sendiri klub? Jawaban gw? THE JAKMANIA ITU BUKAN PEMILIK, TAPI PUNYA RASA MEMILIKI YANG TINGGI. THE JAKMANIA ITU BUKAN PENGUASA, TAPI BERKUASA ATAS DIRINYA SENDIRI UNTUK MENGELUARKAN PENDAPAT, SARAN, ATAU KRITIK. DAN THE JAKMANIA ITU BUKAN PENANAM MODAL, TAPI PUNYA MODAL KUAT UNTUK MEMBERIKAN KONTRIBUSI POSITIF PADA KLUB KEBANGGAAN ........... PERSIJA SAMPE MATI
Sumber : Bung Ferry ( 20 Agustus 2013 )
Langganan:
Komentar (Atom)

















